Rabu, 16 Juni 2021

Pembentukan Akhlak

 Bismillahirrahmanirrahim...




Tulisan saya kali membahas mengenai Pembentukan Akhlak, berkenaan dengan laporan observasi saya yang banyak membahas mengenai perilaku adab peserta didik di sekolah. Jadi bahan bacaan saya ini juga merupakan referensi saya mengenai bagaimana kita sebagai calon guru membentuk akhlak yang baik bagi peserta didik.

Baik langsung hasil bacaan saya berikut ini :

1. Pengertian Akhlak 

Dalam pengertian sehari-hari akhlak umumnya disamakan artinya dengan budi pekerti, kesusilaan, sopan santun dalam bahasa Indonesia, dan tidak berbeda pula dengan arti kata moral, ethic dalam bahasa inggris. Manusia akan menjadi sempurna jika mempunyai akhlak terpuji serta menjauhkan segala akhlak tercela. Secara kebahasaan akhlak bisa baik dan juga bisa buruk, tergantung tata nilai yang dijadikan landasan atau tolok ukurnya. Di Indonesia, kata akhlak selalu berkonotasi positif.  Orang yang baik sering disebut orang yang berakhlak, sementara orang yang tidak berlaku baik disebut orang yang tidak berakhlak. Adapun secara istilah, akhlak adalah sistem nilai yang mengatur pola sikap dan tindakan manusia di muka bumi. 

Sistem nilai yang dimaksud adalah ajaran Islam, dengan al-Qur‟an dan Sunnah Rasul sebagai sumber nilainya serta ijtihad sebagai metode berfikir Islami. Pola sikap dan tindakan. Pengertian Akhlak Dalam pengertian sehari-hari akhlak umumnya disamakan artinya dengan budi pekerti, kesusilaan, sopan santun dalam bahasa Indonesia, dan tidak berbeda pula dengan arti kata moral, ethic dalam bahasa inggris. Manusia akan menjadi sempurna jika mempunyai akhlak terpuji serta menjauhkan segala akhlak tercela. Secara kebahasaan akhlak bisa baik dan juga bisa buruk, tergantung tata nilai yang dijadikan landasan atau tolak ukurnya. Di Indonesia, kata akhlak selalu berkonotasi positif.  Orang yang baik sering disebut orang yang berakhlak, sementara orang yang tidak berlaku baik disebut orang yang tidak berakhlak. Adapun secara istilah, akhlak adalah sistem nilai yang mengatur pola sikap dan tindakan manusia di muka bumi. Sistem nilai yang dimaksud adalah ajaran Islam, dengan al-Qur'an dan Sunnah Rasul sebagai sumber nilainya serta  ijtihad sebagai metode berfikir Islami. Pola sikap dan tindakan yang dimaksud mencakup pola-pola hubungan dengan Allah, sesama manusia (termasuk dirinya sendiri), dan dengan alam. 

Akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam diri manusia dan bisa bernilai baik atau bernilai buruk. Akhlak tidak selalu identik dengan pengetahuan, ucapan ataupun perbuatan orang yang bisa mengetahui banyak tentang baik buruknya akhlak, tapi belum tentu ini didukung oleh keluhuran akhlak, orang bisa bertutur kata yang lembut dan manis, tetapi kata-kata bisa meluncur dari hati munafik. Dengan kata lain akhlak merupakan sifat-sifat bawaan manusia sejak lahir yang tertanam dalam jiwanya dan selalu ada padanya Al-Qur'an selalu menandaskan, bahwa akhlak itu baik atau buruknya akan memantul pada diri sendiri sesuai dengan pembentukan dan pembinaannya.

Akhlak menurut Anis Matta adalah nilai dan pemikiran yang telah menjadi sikap mental yang mengakar dalam jiwa, kemudian tampak dalam bentuk tindakan dan perilaku yang bersifat tetap, natural atau alamiah tanpa dibuat-buat, serta refleks.

Berikut upaya pemaparan sekilas tentang ruang lingkup akhlak adalah:

a) Akhlak terhadap Allah 

Titik tolak akhlak terhadap Allah adalah pengakuan dan kesadaran bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Adapun perilaku yang dikerjakan adalah:

1) Bersyukur kepada Allah

Manusia diperintahkan untuk memuji dan bersyukur kepada Allah karena orang yang bersyukur akan mendapat tambahan nikmat sedangkan orang yang ingkar akan mendapat siksa.

2) Meyakini kesempurnaan Allah Meyakini bahwa Allah mempunyai sifat kesempurnaan. Setiap yang dilakukan adalah suatu yang baik dan terpuji.

3) Taat terhadap perintah-Nya Tugas manusia ditugaskan di dunia ini adalah untuk beribadah karena itu taat terhadap aturanNya merupakan bagian dari perbuatan baik.


b) Akhlak terhadap sesama manusia

Banyak sekali rincian tentang perlakuan terhadap sesama manusia. Petunjuk mengenai hal itu tidak hanya berbentuk larangan melakukan hal-hal yang negatif seperti membunuh, menyakiti badan, atau mengambil harta tanpa alasan yang benar, melainkan juga menyakiti hati dengan jalan menceritakan aib sesama. Di sisi lain, manusia juga didudukkan secara wajar. Karena nabi dinyatakan sebagai manusia seperti manusia lain, namun dinyatakan pula beliau adalah Rasul yang memperoleh wahyu Illahi. Atas dasar itu beliau memperoleh penghormatan melebihi manusia lainnya.

c) Akhlak terhadap lingkungan Yang dimaksud lingkungan di sini adalah segala sesuatu yang berada di sekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan maupun benda-benda tak bernyawa. Dasar yang digunakan sebagai pedoman akhlak terhadap lingkungan adalah tugas kekhalifahannya di bumi yang mengandung arti pengayoman, pemeliharaan serta pembimbingan agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya.


Pengertian Pembentukan Akhlak 

Berbicara masalah pembentukan akhlak sama dengan berbicara tentang tujuan pendidikan, karena banyak sekali dijumpai pendapat para ahli yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah pembentukan akhlak. Misalkan pendapat Muhammad Athiyah al-Abrasyi yang dikutip oleh Abuddin Nata, mengatakan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa dan tujuan pendidikan Islam. Demikian pula Ahmad D. Marimba berpendapat bahwa tujuan utama pendidikan Islam adalah identik dengan tujuan hidup setiap Muslim, yaitu untuk menjadi hamba Allah, yaitu hamba yang percaya dan menyerahkan diri kepada-Nya dengan memeluk agama Islam. Menurut sebagian ahli akhlak tidak perlu dibentuk, karena akhlak adalah instinct (garizah) yang dibawa manusia sejak lahir. Bagi golongan ini bahwa masalah akhlak adalah pembawaan dari manusia sendiri, yaitu kecenderungan kepada kebaikan atau fitrah yang ada dalam diri manusia, dan dapat juga berupa kata hati atau intuisi yang selalu cenderung kepada kebenaran. Dengan pandangan seperti ini, maka akhlak akan tumbuh dengan sendirinya, walaupun tanpa dibentuk atau diusahakan. Kelompok ini lebih lanjut menduga bahwa akhlak adalah gambaran batin sebagaimana terpantul dalam perbuatan lahir. Perbuatan lahir ini tidak akan sanggup mengubah perbuatan batin. Orang yang bakatnya pendek misalnya tidak dapat dengan sendirinya meninggikan dirinya. Demikian juga sebaliknya. Proses pendidikan atau pembentukan akhlak bertujuan untuk melahirkan manusia yang berakhlak mulia. Akhlak yang mulia akan terwujud secara kukuh dalam diri seseorang apabila setiap empat unsur utama kebatinan diri yaitu daya akal, daya marah, daya syahwat dan daya keadilan, Berjaya dibawa ke tahap yang seimbang dan adil sehingga tiap satunya boleh dengan mudah mentaati kehendak syarak dan akal. Akhlak mulia merupakan tujuan pokok pembentukan akhlak Islam ini. Akhlak seseorang akan dianggap mulia jika perbuatannya mencerminkan nilai – nilai yang terkandung dalam al-Qur‟an.

Menurut Hamzah Ya‟kub Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya akhlak atau moral pada prinsipnya dipengaruhi dan ditentukan oleh dua faktor utama yaitu factor intern dan faktor ekstern.


1. Faktor Intern

Faktor intern adalah faktor yang datang dari diri sendiri yaitu fitrah yang suci yang merupakan bakat bawaan sejak manusia lahir dan mengandung pengertian tentang kesucian anak yang lahir dari pengaruh-pengaruh luarnya.Setiap anak yang lahir ke dunia ini telah memiliki naluri keagamaan yang nantinya akan mempengaruhi dirinya seperti unsur-unsur yang ada dalam dirinya yang turut membentuk akhlak atau moral, diantaranya adalah ;

a) Insting (naluri)Instink adalah kesanggupan melakukan hal-hal yang kompleks tanpa latihan sebelumnya, terarah pada tujuan yang berarti bagi si subyek, tidak disadari dan berlangsung secara mekanis. Ahli-ahli psikologi menerangkan berbagai naluri yang ada pada manusia yang menjadi pendorong tingkah lakunya, diantaranya naluri makan, naluri berjodoh, naluri keibu-bapakan, naluri berjuang, naluri bertuhan dan sebagainya.

b) Kebiasaan

Salah satu faktor penting dalam pembentukan akhlak adalah kebiasaan atau adat istiadat. Yang dimaksud kebiasaan adalah perbuatan yang selalu diulang-ulang sehingga menjadi mudah dikerjakan.Kebiasaan dipandang sebagai fitrah yang kedua setelah nurani. Karena 99% perbuatan manusia terjadi karena kebiasaan. Misalnya makan, minum, mandi, cara berpakaian itu merupakan kebiasaan yang sering diulang-ulang.

c) Keturunan

Ahmad Amin mengatakan bahwa perpindahan sifat-sifat tertentu dari orang tua kepada keturunannya, maka disebut al- Waratsah atau warisan sifat-sifat. Warisan sifat orang tua terhadap keturunanya, ada yang sifatnya langsung dan tidak langsung. Artinya, langsung terhadap anaknya dan tidak langsung terhadap anaknya, misalnya terhadap cucunya. Sebagai contoh, ayahnya adalah seorang pahlawan, belum tentu anaknya seorang pemberani bagaikan pahlawan, bisa saja sifat itu turun kepada cucunya.

d) Keinginan atau kemauan keras

Salah satu kekuatan yang berlindung di balik tingkah laku manusia adalah kemauan keras atau kehendak. Kehendak ini adalah suatu fungsi jiwa untuk dapat mencapai sesuatu. Kehendak ini merupakan kekuatan dari dalam. Itulah yang menggerakkan manusia berbuat dengan sungguh-sungguh. Seseorang dapat bekerja sampai larut malam dan pergi menuntut ilmu di negeri yang jauh berkat kekuatan „azam (kemauan keras). Demikianlah seseorang dapat mengerjakan sesuatu yang berat dan hebat memuat pandangan orang lain karena digerakkan oleh kehendak. Dari kehendak itulah menjelma niat yang baik dan yang buruk, sehingga perbuatan atau tingkah laku menjadi baik dan buruk karenanya.

e) Hati nurani

Pada diri manusia terdapat suatu kekuatan yang sewaktu-waktu memberikan peringatan (isyarat) apabila tingkah laku manusia berada di ambang bahaya dan keburukan. Kekuatan tersebut adalah “suara batin” atau “suara hati” yang dalam bahasa arab disebut dengan “dhamir”. Dalam bahasa Inggris disebut “conscience”. Sedangkan “conscience” adalah sistem nilai moral seseorang, kesadaran akan benar dan salah dalam tingkah laku. Fungsi hati nurani adalah memperingati bahayanya perbuatan buruk dan berusaha mencegahnya. 


2. Faktor ekstern

Adapun faktor ekstern adalah faktor yang diambil dari luar yang mempengaruhi kelakuan atau perbuatan manusia, 

yaitu meliputi ;

a. Lingkungan

Salah satu faktor yang turut menentukan kelakuan seseorang atau suatu masyarakat adalah lingkungan (milleu). Milleu adalah suatu yang melingkupi suatu tubuh yang hidup. Misalnya lingkungan alam mampu mematahkan/mematangkan pertumbuhan bakat yang dibawa oleh seseorang ; lingkungan pergaulan mampu mempengaruhi pikiran, sifat, dan tingkah laku.

b. Pengaruh keluarga 

Setelah manusia lahir maka akan terlihat dengan jelas fungsi keluarga dalam pendidikan yaitu memberikan pengalaman kepada anak baik melalui penglihatan atau pembinaan menuju terbentuknya tingkah laku yang diinginkan oleh orang tua. Dengan demikian orang tua (keluarga) merupakan pusat kehidupan rohani sebagai penyebab perkenalanbdengan alam luar tentang sikap, cara berbuat, serta pemikirannya di hari kemudian. Dengan kata lain, keluarga yang melaksanakan pendidikan akan memberikan pengaruh yang besar dalam pembentukan akhlak.

c. Pengaruh sekolah

Sekolah adalah lingkungan pendidikan kedua setelah pendidikan keluarga dimana dapat mempengaruhi akhlak anak. Sebagaimana dikatakan oleh Mahmud Yunus sebagai berikut ;

“Kewajiban sekolah adalah melaksanakan pendidikan yang tidak dapat dilaksanakan di rumah tangga, pengalaman anakanak dijadikan dasar pelajaran sekolah, kelakuan anak-anak yang kurang baik diperbaiki, tabiat-tabiatnya yang salah dibetulkan, perangai yang kasar diperhalus, tingkah laku yang tidak senonoh diperbaiki dan begitulah seterunya."

Di dalam sekolah berlangsung beberapa bentuk dasar dari kelangsungan pendidikan. Pada umumnya yaitu pembentukan sikap-sikap dan kebiasaan, dari kecakapan-kecakapan pada umumnya, belajar bekerja sama dengan kawan sekelompok melaksanakan tuntunan-tuntunan dan contoh yang baik, dan belajar menahan diri dari kepentingan orang lain.


Demikian laporan bacaaan saya, mohon maaf apabila ada kesalahan kata, sekian dari saya wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Muslimah di Era Modern 🌼

 Bismillahirrahmanirrahim...



Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, disini saya menulis kembali nah disini saya menulis hasil bacaan kebetulan pdf yang saya baca berjudul Wanita dan Kepemimpinan dalam Pendidikan Islam di Era Kehidupan Modern. Seperti yang pernah saya bilang sebelumnya saya memang banyak menyimpan file pdf dan ternyata ada salah satu file pdf tentang muslimah, pas sekali untuk bahan bacaan saya.

Oh iya sebelumnya saya berharap semoga kita selalu diberikan kesehatan, karena jika nikmat sehat masih Allah berikan tentunya segala aktivitas yang kita lakukan juga akan berjalan dengan lancar.

Baik langsung saja ini hasil laporan bacaaan saya :

Seperti kita ketahui bersama sebelum agama Islam muncul wanita diperlakukan tidak baik, bahkan dianggap sebagai suatu kesialan jika melahirkan anak perempuan sampai-sampai pada zaman jahiliah jika melahirkan anak perempuan, anak itu akan dibunuh. Wanita selalu dipandang rendah, tidak berkuasa dan diperlakukan dengan semena-mena.

Ketika Islam datang, kezaliman-kezaliman terhadap wanita dihapuskan. Martabatnya sebagai manusia dikembalikan. Allah SWT berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang palingvmulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. al-Hujuraat: 13).vPada ayat ini, Allah Swt menyebutkan bahwa wanita memiliki kedudukan yang sama dengan laki-laki sebagai manusia. Dengan begitu, ia juga memiliki kedudukan yang sama dengan laki-laki dalam hal mendapatkan pahala dan hukuman atas apa yang diperbuatnya. Allah Swt berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. an-Nahl: 97) Satu-satunya agama yang sempurna hanyalah Islam. Di dalamnya telah diatur seluruh kebutuhan manusia. Semuanya telah sempurna. Demikian pula halnya dengan eksistensi Wanita. Sepanjang sejarah, Islam telah mencatat dengan indahnya kontribusi  Wanita dalam perjuangan. Pada masa awal Islam disebarkan hingga ketika agama ini  menjadi "penguasa" dunia. Dalam Islam, wanita begitu mulia kedudukannya. Bahkan, salah satu nama surah dalam Al-Quran adalah AN-Nisa yang berarti “wanita” Bukan hanya itu, Rasulullah Saw. Ketika ditanya siapa yang paling berhak untuk dihormati, di antara ayah dan ibu, ia menjawab,"Ibumu"hingga tiga kali, kemudian setelah itu, "Ayahmu".

Pada dasarnya Islam menjunjung tinggi harga diri dan kemuliaan wanita dengan menempatkannya setara dengan pria. Tetapi masyarakat Islam memahami ayat-ayat yang berhubungan denagn pria dan wanita secara timpang dan lebih mengunggulkan pria dibanding wanita, seperti warisan, wali saksi dan menjadi Imam sholat. Hal ini didasarkan pada teks hadis diantaranya tentang asal penciptaan wanita, kemampuan akal dan spiritual wanita yang lemah. Pandangan yang merendahkan terhadap wanita sangat mempengaruhi mereka dalam dunia kerja seperti mereka harus menerima tindak pelecehan seksual ditempat mereka kerja baik dari rekan kerjanya sendiri maupun dengan atasannya, gaji rendah yang mereka peroleh dikarenakan wanita menggalami haid, hamil, melahirkan sehingga dianggap tidak mampu beraktifitas dengan semaksimal mungkin, perusahan tidak memberikan wanita jaminan kesehatan yang memadai kalaupun ada tidak semua wanita akan memperolehnya. Islam datang untuk melepaskan Wanita dari belenggu-belengu kenistaan dan perbudakan terhadap sesama manusia, Islam memandang wanita sebagai mahluk yang mulia dan terhormat; mahluk yang memiliki beberapa hak yang telah disyariatkan oleh Allah. Didalam Islam Haram hukumnya berbuat aniaya dan memperbudak wanita. Dan Allah mengancam orang yang berani melakukan perbuatan itu dengan ancaman siksa yang pedih. Dalam Islam, wanita bukanlah musuh atau lawan kaum laki-laki. Sebaliknya wanita adalah bagian dari laki-laki demikian pula laki-laki adalah bagian dari wanita, keduanya bersifat saling melengkapi. (QS. Ali Imran (3) : 195)

Dalam era modernisasi dan industrialisasi benturan-benturan dan pergeseran nilai sulit dihindari, karena era tersebut, menghendaki adanya interaksi sosial yang lebih luas, baik bersifat nasional maupun internasional, yang dalam istilah sosiologi-diidentifikasi sebagai globalisasi. Modernisasi adalah pencarian sarana yang lebih baru dan lebih efisien untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan, modernisasi berarti sebuah gerakan menuju kesempurnaan. Munculnya situasi Global dapat menimbulkan dampak positif, yaitu semakin mudahnya mendapatkan informasi dalam waktu yang sangat singkat, juga menimbulkan dampak negatif, yaitu manakala informasi yang dimuat dalam berbagai peralatan komunikasi tersebut adalah informasi yang merusak moral. Pola budaya hubungan serba bebas antara lawan jenis, modal pakaian yang tidak mengindahkan batas-batas aurat, tingkah laku kekerasan, gambaran-gambaran porno dan sebagainya dapat dengan mudah dijumpai melalui berbagai peralatan tersebut telah subur bagi terciptanya moral yang buruk. Hal yang demikian dirasakan lebih menarik lagi bagi kalangan generasi muda yang serba ingin tahu.

Wanita maupun pria memiliki sebuah tanggung jawab terhadap masyarakat,tetapi mereka hidup. Keduanya memiliki tugas yang sama untuk melindungi masyarakat dari polusi dan kontaminasi, sebagaimana pria mengambil peran aktif dan menikmati hak-hak sosialnya, wanita juga memiliki hak dan tanggung jawab yang sama. Al-Quran menyatakan: hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya, dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. ( QS. an-Nisa‟: 8)

Berkat Islam, wanita memiliki peran yang Agung dan sensitif dalam mengatur masyarakat. Hal ini karena agama mendorong wanita pada suatu tempat, dimana dirinya dapat meraih posisi yang tepat sebagai manusia, dan bukan lagi diperlakukan semata-mata sebagai objek-objek material. Dengan demikian wanita memiliki sebuah peran yang sangat luas dalam semua aktifitas, meskipun begitu, kita masih menemukan sebuah pendirian, yang dipegang banyak kalangan yang melarang wanita untuk terlibat dalam jenis aktifitas yang baik, serta membatasi peran wanita hanya dalam lingkup keluarga dan pendidikan anak. Wanita mempunyai posisi sentral dalam keluarga : sebagai istri, mitra suami, sebagai ibu rumah tangga, sebagai ibu pendidik pertama dan utama karena pendidikan berlangsung sejak janin masih dalam kandungan ibu dan sebagai ibu bangsa yang mempersiapkan generasi penerus. Tetapi yang sering kurang diketahui dan kurang dipahami masyarakat ialah, bahwa potensi wanita yang begitu besar dan sangat menentukan keberhasilan pembangunan nasional, khususnya pembangunan manusia Indonesia seutuhnya, belum dikembangkan secara maksimal.Peranan wanita makin dirasakan dalam gerak pembangunan yang kian pesat, sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi. Di era globalisasi sekarang, kaum wanita harus dilindungi dan harus mendapat tempat dalam berbagai kesempatan. Kaum wanita, jangan sampai termarjinalkan, apalagi mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh wanita selain menjadi ibu rumah tangga. Misalnya, jika dulu pemimpin haruslah pria, maka sekarang pun wanita bisa menjadi pemimpin. Buktinya banyak wanita yang menjadi kepala desa, camat, bahkan menjadi pejabat. Pekerjaan yang dilakukan wanita harus tetap dalam batasan-batasan yang pantas. Maksudnya, tetap ada pekerjaan atau hal-hal yang dilakukan kaum adam yang tidak bisa digantikan oleh wanita. Contohnya, kepala keluarga. Meskipun dalam pekerjaannya Upaya peningkatan peranan wanita ditujukan untuk meningkatkan kedudukan dan peranannya :


1. Sebagai pribadi yang mandiri, yang perlu mengembangkan dirinya agar dapat berperan aktif dalam pembangunan dan menjawab tantangan kemajuan yang dibawa oleh pembangunan.

2. Sebagai istri dan ibu, bersama-sama suami/bapak bertanggung jawab atas kesejahteraan, kebahagiaan keluarga dan pembinaan generasi muda yang berkualitas dalam arti sebagai manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehat, cerdas, berbudi luhur, berkepribadian kuat, mandiri, kreatif, mempunyai semangat kebangsaan yang tinggi dan berorientasi ke masa depan.

3. Sebagai anggota masyarakat, yang mempunyai kesadaran dan tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial yang tinggi dan berperan serta secara aktif dalam membina kehidupan bermasyarakat yang aman dan tentram.

4. Sebagai warga Negara, yang perlu menyadari akan hak dan kewajibannya serta berperan aktif dalam segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara.

5. Sebagai warga dunia, yang perlu menyadari permasalahan yang dihadapi dunia dan ikut serta memelihara perdamaian dunia dan menciptakan kemakmuran dunia yang lebih merata.


Mohon maaf hanya segini saja yang dapat saya sampaikan, kurang lebihnya mohon maaf apabila ada kesalahan kata. Sekian dari saya wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Selasa, 08 Juni 2021

IBADAH & AKHLAK

 Bismillahirrahmanirrahim...



Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, kembali lagi dengan tulisan saya setelah beberapa minggu ini break sebentar. Dikarenakan beberapa minggu lalu fokus pada tugas observasi ke sekolah, yupss beberapa minggu lalu itu adalah pengalaman beharga karena bisa melihat secara langsung bagaimana proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru, kebetulan tema saya fokus pada proses pembelajaran yang ada dikelas. Jadi dari awal sampai akhir itu saya mengamati bagaimana proses belajar mengajar itu berlangsung. Dari hasil observasi itu juga saya melihat bagaimana sikap murid disekolah yang saya observasi baik itu sikap kepada guru maupun dengan teman-temannya. Kebetulan sekolah yang saya observasi itu Pondok Pesantren madrasah Aliyah, jadinya sangat menjunjung tinggi sikap/perilaku (adab).

Kebetulan beberapa hari yang lalu ini saya membuka file dokumen dan disitu ada satu file berbentuk pdf dengan judul Ibadah dan Akhlak, sebenarnya saya lupa kapan pernah mendownload pdf itu, jadi saya buka lumayan untuk bahan bacaan saya. Baik berikut hasil rangkuman bacaan saya :

Yang pertama ini membahas mengenai ibadah, dimulai dari pengertian ibadah itu sendiri Ibadah sendiri secara umum dapat dipahami sebagai wujud penghambaan diri seorang makhluk kepada Sang Khaliq. Penghambaan itu lebih didasari pada perasaan syukur atas semua nikmat yang telah dikaruniakan oleh Allah padanya serta untuk memperoleh keridhaanNya dengan menjalankan titah-Nya sebagai Rabbul ‘Alamin. Ibadah secara etimologis berasal dari bahasa arab yaitu  yang artinya melayani patuh, tunduk. Sedangkan menurut terminologis ialah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai allah azza wa jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin [Amin Syukur, 2003: 80]. Ditinjau dari jenisnya, ibadah dalam Islam terbagi menjadi dua jenis, dengan bentuk dan sifat yang berbeda antara satu dengan lainnya [Muhammad Alim, 2006: 144].

1. Ibadah Mahdhah

Ibadah mahdhah atau ibadah khusus ialah ibadah yang apa saja yang telah ditetapkan Allah akan tingkat, tata cara dan perincian-perinciannya. Jenis ibadah yang termasuk mahdhah, adalah : Wudhu,Tayammum, hadats, Shalat, Shiyam ( Puasa ), Haji, dan Umrah. Ibadah bentuk ini memiliki 4 prinsip:

a. Keberadaannya harus berdasarkan adanya dalil perintah, baik dari al-Quran maupun al- Sunnah, jadi merupakan otoritas wahyu, tidak boleh ditetapkan oleh akal atau logika keberadaannya. Haram kita melakukan ibadah ini selama tidak ada perintah.

b. Tatacaranya harus berpola kepada contoh Rasul saw. Salah satu tujuan diutus rasul oleh Allah adalah untuk memberi 

c. Bersifat supra rasional (di atas jangkauan akal) artinya ibadah bentuk ini bukan ukuran logika, karena bukan wilayah akal, melainkan wilayah wahyu, akal hanya berfungsi memahami rahasia di baliknya yang disebuthikmah tasyri’. Shalat, adzan, tilawatul Quran, dan ibadah mahdhah lainnya, keabsahannnya bukan ditentukan oleh mengerti atau tidal melainkan ditentukan apakah sesuai dengan ketentuan syari’at, atau tidak. Atas dasar ini, maka ditetapkan oleh syarat dan rukun yang ketat.

d. Azasnya “taat”, yang dituntut dari hamba dalam melaksanakan ibadah ini adalah kepatuhan atau ketaatan. Hamba wajib meyakini bahwa apa yang diperintahkan Allah kepadanya, semata-mata untuk kepentingan dan kebahagiaan hamba, bukan untuk Allah, dan salah satu misi utama diutus Rasul adalah untuk dipatuhi. Rumus Ibadah Mahdhah adalah = ”KA + SS” (Karena Allah + Sesuai Syariat)


2. Ibadah Ghairu Mahdah

Ibadah ghairu mahdhah atau umum ialah segala amalan yang diizinkan oleh Allah. misalnya ibadaha ghairu mahdhah ialah belajar, dzikir, dakwah, tolong menolong dan lain sebagainya. Prinsip-prinsip dalam ibadah ini, ada 4, antara lain:

A. Keberadaannya didasarkan atas tidak adanya dalil yang melarang. Selama Allah dan Rasul-Nya tidak melarang maka ibadah bentuk ini boleh diselenggarakan. Selama tidak diharamkan oleh Allah, maka boleh melakukan ibadah ini.

B. Tatalaksananya tidak perlu berpola kepada contoh Rasul, karenanya dalam ibadah bentuk ini tidak dikenal istilah “bid’ah” , atau jika ada yang menyebut nya, segala hal yang tidak dikerjakan rasul bid’ah, maka bid’ahnya disebut bid’ah hasanah, sedangkan dalam ibadahmahdhah disebut bid’ah dhalalah.

C. Bersifat rasional, ibadah bentuk ini baik-buruknya, atau untung-ruginya, manfaat atau madharatnya, dapat ditentukan oleh akal atau logika. Sehingga jika menurut logika sehat, buruk, merugikan, dan madharat, maka tidak boleh dilaksanakan.

D. Azasnya “Manfaat”, selama itu bermanfaat, maka selama itu boleh dilakukan.

Rumus Ibadah Ghairu Mahdhah = ”BB + KA” (Berbuat Baik + Karena Allah)

Didalam ibadah itu terdapat berbagai macam penghalang ibadah [Abu Hamid Al Ghazali, 2007: 183]. Penghalangnya yaitu:

1. Rezeki dan keinginan memilikinya

2. Bisikan-bisikan dan keinginan meraih tujuan

3. Qadha; dan pelbagai problematika

4. Kesusahan dan berbagai musibah


Syarat-syarat diterimanya ibadah

1. Ikhlas

2. Dilakukan secara sah yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah


Islam dan Hubungan Sosial

Fitrah Sebagai System dalam Kehidupan Muhammad Ibn ‘Asyur (al-Tunisi, 2000: 48) dalam karyanya al-Tahrir wa al-Tanwir ketika menfasirkan QS al-Rum [30]: 30 antara lain menjelaskan:

Sesungguhnya fitrah adalah bentuk dan sistem yang diwujudkan Al-blah pada setiap makhluk, sedangkan fitrah yang berkaitan dengan manusia adalah apa yang diciptakan Allah pada manusia yang berkaitan dengan jasmani dan akalnya (serta ruhnya). 

Batasan pengertian fitrah di atas memberikan suatu pemahaman bahwa fitrah terkait dengan semua yang diciptakan oleh Allah Swt, termasuk di dalamnya terkait dengan manusia. Fitrah dalam konteks kemanusiaan dibentangkan secara spesifik pada potensi jasad, akal maupun ruhnya, bahkan fitrah tersebut pada dasarnya bernuansa pada nilai-nilai kesucian (al-qudsiyah). Perkemabangan selanjutnya, potensi kesucian tersebut dapat dikategorikan pada nilai-nilai keagamaan doktrinal, teologi, aqidah, tauhid maupun Islam. Secara kebahasaan, fitrah itu sendiri terambil dari akar kata al-fathr yang berarti belahan. Dari makna ini makna-makna lain, seperti penciptaan maupun kejadian. Fitrah manusia adalah kejadiannya sejak semula atau bawaan sejak lahirnya. Kata fitrah dengan segala bentuk kata jadiannya terulang dalam dalam al-Qur’an sebanyak 28 kali, dan 14 di antaranya dalam konteks uraian tentang bumi dan atau langit. Sedangkan yang lain dalam konteks penciptaan manusia baik dari sisi pengakuan bahwa Penciptanya adalah Allah, maupun dari segi uraian tentang fitrah manusia.

Islam dalam Aspek Sosial

Islam sebagai gejala sosial, pada dasarnya bertumpu pada konsep sosiolagi agama. Pada zaman dahulu sosiologi agama mempelajari hubungan timbal balik antara agama dan masyarakat Masyarakat mempengaruhi agama, dan agama mempengaruhi masyarakat. Belakangan sosiologi agama mempelajari bukan soal hubungan timbal balik, melainkan lebih kepada pengaruh agama terhadap tingkah laku masyarakat: bagaimana Agama sebagai sistem nilai yang mempengaruhi tingkah laku masyarakat. Bagaimanapun juga, ada juga pengaruh masyarakat terhadap pemikiran keagamaan. Orang tentu sepakat bahwa lahirnya teologi Syiah, Khawarij, Ahli Sunnah wal Jamaah sebagai produk pertikaian politik. Tauhidnya memang asli dan satu, tetapi anggapan bahwa Ali sebagai imam dan semacamnya adalah produk perbedaan pandangan politik. Jadi pergeseran masyarakat dapat mempengaruhi pemikiran teologi atau keagamaan. (M. Ahto Mudzhar, 1998: 16). Oleh karena itu dapat juga diteliti bagaimana perkembangan masyarakat industri mempengaruhi pemikiran keagamaan. Contoh, kita hidup di kampung dan di sebelah rumah kita ada Masjid. Kalau kita tidak pernah kelihatan shalat jum’ah di situ, kita akan dianggap kurang saleh dalam beragama. Tetapi kalau kita tinggal di kota, walau setahun kita tidak pernah kelihatan shalat jum’ah di Masjid kota itu, kita tidak dianggap kurang saleh dalam beragama. Mengapa? karena indikasi kesalehan telah bergeser dan berbeda bagi orang Desa dan Kota. Kehidupan kota telah menyebabkan pergeseran itu; perkembangan masyarakat telah mempengaruhi cara perpikir orang mengenai penilaian kesalehan. Atho Mudzhar mencatat adanya lima bentuk gejala agama yang perlu diperhatikan kalau seseorang hendak mem0pelajari suatu agama. Pertama scripture atau naskah-naskah atau sumber ajaran dan simbol-simbol agama. Kedua, para penganut atau para pemimpin atau pemuka agama, yakni sikap, perilaku dan penghayatan para penganutnya. Ketiga, ritus-ritus, lembaga-lembaga dan ibadat-ibadat, seperti shalat, puasa, haji, perkawi nan dan waris. Keempat, alat-alat, seperti masjid, gereja, lonceng, dan semacamnya. Kelima, organisasi-organisasi keagamaan tempat para penganut agama berkumpul dan berperan, seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, Gereja Katholik, Gereja Protestan dan lain-lain.( Atho Muzzhar, 1998: 13-14). Lebih jauh ia menegaskan bahwa penelitian keagamaan dapat mengambil sasaran salah satu atau beberapa dari lima bentuk gejala tersebut di atas. Orang boleh mengambil tokohnya, boleh alatnya, terserah dari sudut mana kita menelitinya. Alat-alat agama dapat menjadi sasaran penelitian, namun perlu diperhatikan bahwa ada yang betul-betul alat agama, ada yang sebenarnya hanya dianggap sebagai alat agama. Di dalam Islam juga terjadi hal yang sama. Di dunia ini sebenarnya tidak ada yang sakral. Di dalam konsep Islam benda-benda sakral sebenarnya tidak ada. Mengenai hubungan seorang muslim dengan Hajar Aswad, misalnya, Umar bin Khattab mengatakan: Kalau saya tidak melihat Nabi menciummu, saya tidak akan menciummu. Kamu hanya sebuah batu, sama dengan batu-batu yang lain. Maka nilai Hajar Aswad bagi seorang pengamat agama terletak dalamkepercayaan orang Islam mengenai nilai yang ada di dalamnya. Islam tentu mensakralkan wahyu Allah, tetapi ada perdebatan, apakah wahyu itu tulisan yang dibacakan ataukah isinya (M. Ahto Mudzhar, 1998: 15).


Sebenarnya masih banyak judul bab yang belum selesai dibaca, tapi hanya itu yang bisa saya sampaikan, mohon maaf apabila ada kesalahan kata sekian dari saya, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh 🌼


Selasa, 20 April 2021

SOSIOLOGI PENDIDIKAN ISLAM

 Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...


Hai sahabat Daisy 🌼!

Semoga sehat selalu yaa, dan di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini kita bisa Danberpuasa dengan lancar, aamiin...


Oh iyaa untuk laporan bacaaan minggu ke dua ini saya baca tentang Sosiologi Pendidikan Agama karangan Radiansyah, S.Ag, M.Pd.I, sebenarnya sudah lama saya download pdf ini cuman baru sempat baca apalagi ada tugas yang harus mengirimkan laporan bacaaan setiap minggunya jadi yaa ini momen yang pas untuk membacanya 😅.







Kenapa saya bisa ada ebook tentang Sosiologi Pendidikan Agama ini? Karena sebelum perkuliahan semester 4 ini dimulai saya searching di google mengenai mata kuliah yang kemungkinan keluar di semester 4 jurusan Pendidikan Agama Islam.


Nah jadi langsung saja saya akan memaparkan hasil bacaan nya 🌼...

Jadi di Bab I nya membahas mengenai pengertian dari judulnya terlebih dahulu dimulai dari sosiologi, pendidikan dan agama.

Baik dimulai dari pengertian Sosiologi, yaitu ilmu tentang hubungan antar manusia atau dikenal dengan nama hubungan dalam masyarakat, socius yang berarti teman, kawan, atau sahabat atau juga masyarakat dan logos yang berarti ilmu pengetahuan atau pikiran.

Selanjutnya pengertian pendidikan, menurut istilah pendidikan adalah proses perubahan sikap dan perilaku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusiamelalui upaya pengajaran dan pelatihan (Em Zul Fajri,Ratu Aprillia Senja, t.th: 254).

Nah jadi dapat dibilang pendidikan adalah suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana dan proses belajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.



Kemudian ada pengertian Agama, sebenarnya saya juga bingung gimana menguraikan pengertian agama ini sesuai dengan pemahaman aku, jadi pengertian agama ini akan aku mulai dari pengertian agama menurut kamus besar bahasa Indonesia, agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan pergaulan manusia dengan manusia serta lingkungannya. Dan juga ada salah satu tokoh yang bernama Emile Durkheim beliau mengatakan bahwa Agama adalah suatu sistem yang terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal yang suci. Kita sebagai umat beragama semaksimal mungkin berusaha untuk terus meningkatkan keimanan kita melalui rutinitas beribadah, mencapai rohani yang sempurna kesuciannya.

Nah jadi dari judul bacaannya ini telah diuraikan masing-masing pengertiannya baik dari Sosiologi, Pendidikan dan Agama. Dari yang aku baca ini Sosiologi Pendidikan adalah salah satu ilmu pengetahuan yang menyelidiki struktur dan dinamika proses pendidikan. 

Selanjutnya di Bab II membahas sekilas latar belakang lahirnya Sosiologi Agama, seperti kita ketahui bersama setiap agama membawa misi sebagai pembawa kedamaian baik antar sesama umat manusia maupun makhluk ciptaan Allah yang lain.

Kemudian di bab III membahas mengenai tokoh-tokoh sosiologi agama diantaranya ada :

Ibnu Khaldun

Ibnu Khaldun (1332 – 1406 M) merupakan tokoh cendekiawan muslim yang hidup pada zaman Islam sedang terpuruk atau masa kegelapan Islam. Beliau dipandang sebagai satu-satunya ilmuan muslim yang menghidupkan khazanah Islam pada masa periode pertengahan.

Nama lengkap Ibnu Khaldun adalah Waliyuddin ’Abd al Rahman Ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Abi Bakr Muhammad Ibn al-Hasan Ibn Khaldun. Dia lahir di Tunisia tanggal 1 Ramadhan 732 H / 27 Mei 1333M dan wafat di Kairo pada tanggal 25 Ramadhan 808 H / 19 Maret 1406M

Ide-ide Ibnu Khaldun mengenai pendidikan dan sosiologi masih belum dikumpulkan. Ide-idenya masih tersebar secara terpisah-pisah dalam karya-karya beliau, terutama dalam magnum opus-nya, Muqaddimah. Sehingga untuk mengetahui konsep sosiologi pendidikan dalam pandangan Ibnu Khaldun dirasakan cukup sulit.


Lanjut di bab IV membahas mengenai pendekatan sosiologi, setidaknya ada tiga pendekatan utama sosiologi, yaitu :

1. Pendekatan struktural–fungsional.

2. Pendekatan konflik.

3. Pendekatan interaksionisme–simbolis

Pendekatan struktural–fungsional terkenal pada akhir 1930-an, dan mengandung pandangan makroskopis terhadap masyarakat. Walaupun pendekatan ini bersumber pada sosiolog-sosiolog Eropa seperti Max Webber, Emile Durkheim, Vill Predo Hareto, dan beberapa antropog sosial Inggris, namun yang pertama mengemukakan rumusan sistematis mengenai teori ini adalah Halcot Parsons, dari Harvard. 

Adapun pendekatan konflik merupakan pendekatan alternatif paling menonjol saat ini terhadap pendekatan struktural-struktural sosial makro. Karl Marx (1818-1883) adalah tokoh yang sangat terkenal sebagai pencetus gerakan sosialis internasional. Meskipun sebagian besar tulisannya ia tujukan untuk mengembangkan sayap gerakan ini, tetapi banyak asumsinya yang dalam pengertian modern diakui sebagai bersifat sosiologis.

Pendekatan intraksionisme simbolis lebih sering disebut pendekatan intraksionis saja, bertolak dari interaksi sosial pada tingkat paling minimal. Dari tingkat mikro ini ia diharapkan memperluas cakupan analisisnya guna menangkap keseluruhan masyarakat sebagai penentu proses dari banyak interaksi. Manusia dipandang mempelajari situasi-situasi transaksi-transaksi politis dan ekonomis, situasi-situasi di dalam dan di luar keluarga, situasi-situasi permainan dan pendidikan, situasi-situasi organisasi formal dan informal dan seterusnya.


Di bab V membahas mengenai mengenai agama Islam, dimulai dari pengertian Islam itu sendiri. Islam adalah mengimani satu Tuhan yaitu Allah SWT, Islam memiliki arti penyerahan atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT. Pengikut ajaran Islam dikenal sebutanMuslim yang berarti “seorang yang tunduk kepada Tuhan". atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan. Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.


Berkenaan dengan kehidupan beragama seseorang dalam masyarakat, di antaranya:

1. Tradisional, yaitu cara beragama berdasar tradisi. Cara ini mengikuti cara beragamanya nenek moyang, leluhur atau orang-orang dari angkatan sebelumnya. Pada umumnya kuat dalam beragama, sulit menerima hal-hal keagamaan yang baru atau pembaharuan. Apalagi bertukar agama, bahkan tidak ada minat. Dengan demikian kurang dalam meningkatkan ilmu amal keagamaanya.


2. Formal, yaitu cara beragama berdasarkan formalitas yang berlaku di lingkungannya atau masyarakatnya. Cara ini biasanya mengikuti cara beragamanya orang yang berkedudukan tinggi atau punya pengaruh. Pada umumnya tidak kuat dalam beragama. Mudah mengubah cara beragamanya jika berpindah lingkungan atau masyarakat.yang berbeda dengan cara beragamnya. Mudah bertukar agama jika memasuki lingkungan atau masyarakat yang lain agamanya. Mereka ada minat meningkatkan ilmu dan amal keagamaannya akan tetapi hanya mengenai hal-hal yang mudah dan nampak dalam lingkungan masyarakatnya.

3. Rasional, yaitu cara beragama berdasarkan penggunaan rasio sebisanya. Untuk itu mereka selalu berusaha memahami dan menghayati ajaran agamanya dengan pengetahuan, ilmu dan pengamalannya. Mereka bisa berasal dari orang yang beragama secara tradisional atau formal, bahkan orang tidak beragama sekalipun.

4. Metode Pendahulu, yaitu cara beragama berdasarkan penggunaan akal dan hati (perasaan) dibawah wahyu. Untuk itu mereka selalu berusaha memahami dan menghayati ajaran agamanya dengan ilmu, pengamalan dan penyebaran (dakwah). Mereka selalu mencari ilmu dulu kepada orang yang dianggap ahlinya dalam ilmu agama yang memegang teguh ajaran asli yang dibawa oleh utusan dari Sesembahannya semisal Nabi atau Rasul sebelum mereka mengamalkan, mendakwahkan dan bersabar (berpegang teguh) dengan itu semua.


Selanjutnya ada fungsi dari agama itu sendiri yaitu :

1). Sumber pedoman hidup bagi individu maupun kelompok

2). Mengatur tata cara hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia.

3). Merupakan tuntutan tentang prinsip benar atau salah

4). Pedoman mengungkapkan rasa kebersamaan

5). Pedoman perasaan keyakinan

6). Pedoman hidup di dunia sampai ke akhirat

7). Pengungkapan estetika (keindahan)

8). Pedoman rekreasi dan hiburan

9). Memberikan identitas kepada manusia sebagai umat dari suatu agama.


Untuk laporan bacaannya mohon maaf belum dapat saya lanjutkan dikarena jujur saya belum selesai baca ebook nya, karena lumayan ada dua ratus lebih halaman. Jadi saya belum sepenuh membacanya sampai habis, kurang lebihnya mohon maaf apabila ada kesalahan kata.

Sekian dari saya wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh...


Senin, 12 April 2021

Pentingnya Bismillah

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Laporan bacaaan saya untuk minggu pertama ini, yaitu tentang bismillah, yang pastinya saya yakin kita semua khususnya yang beragama Islam pasti sering mengucapkannya. Baik jadi disini saya akan mengulas balik hasil bacaan saya dibeberapa artikel tentang kalimat bismillah ini...


   


                                

Bismillah

Kata itu mungkin sering kita sebutkan sebelum hendak melakukan sesuatu. Baik itu mau makan, minum, bepergian dan aktivitas lainnya pasti kita setidaknya melafazkan bismillah dari mulut kita. Walaupun sebenarnya setiap aktivitas yang kita lakukan hampir semua mempunyai lafaz doanya masing-masing tapi pastilah minimal kita mengucapkan bismillah.

Sekedar informasi saja foto yang diatas adalah wallpaper hp saya dan tentunya latar belakang bunga Daisy, entah kenapa akhir-akhir ini suka aja sama bunga Daisy, yaa walaupun gak nanam cuman searching di pinterest bunga Daisy nya🤣, astaghfirullah maafkan saya yang jadi bahas bunga Daisy 😅🙏...

Baik kita lanjut ya membahas kalimat basmallah ini...

Sedari kecil kita sudah tentunya diajarkan selalu mengawali suatu aktivitas dengan membaca basmallah, karena kita meyakini betapa baiknya kalimat basmallah itu sehingga sering untuk kita ucapkan, dan gambar diatas itu adalah wallpaper hp saya, kenapa isi kata-katanya Start everything with bismillah? Karena saya meyakini setiap aktivitas yang diawali dengan membaca basmallah pasti insyallah hasil output nya akan baik, dan itu juga menjadi pengingat bagi saya pribadi.

Pesan edukatif dari kalimat basmallah ini yaitu, mengajarkan kita untuk selalu menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas, mengingat-Nya, dan menyebut nama-Nya. 

Ayat basmalah yang pada pokoknya memberikan pesan moral agar kita selalu menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas, lebih baiknya agar setiap apa yang kita lakukan dimulai dengan menyebut nama-Nya yang Agung itu, dan pada umumnya semua itu sudah terwakilkan melalui lafaz basmalah.

Jika setiap pekerjaan yang dilakukan harus dimulai dengan basmallah maka suda barang tentu bahwa aktivitas yang dilakukan adalah aktivitas yang dicintai oleh Allah, basmalah menghendaki agar kita menjauhi segala perilaku yang bertentangan dengan apa yang Allah inginkan.

Basmalah menghendaki agar setiap aktivitas kita di bumi ini bernilai ibadah disisi Allah, bukan hanya sebatas rutinitas. Benar apa yang diungkap oleh para ulama bahwa ibadah itu adalah nama umum untuk setiap yang pekerjaan yang dicintai oleh Allah, baik perkataan atau perbuatan, dalam kondisi nyata maupun tersembunyi.

Di dunia pendidikan juga begitu, jika kita memulai hendak belajar atau menuntut ilmu disertakan dengan membaca basmallah insyallah hasilnya juga akan baik, ilmu berkah karena selalu dimulai dengan menyebut nama Allah SWT...

Jadi pada intinya hendaklah kita memulai segala aktivitas dengan membaca doa supaya berkah dan diridhoi oleh Allah SWT, minimal lah kita menyebutkan basmallah itu sudah lebih dari cukup, Allah pun senang dengan apa yang kita perbuat.

Sudah tentunya jika melakukan aktivitas dengan selalu diawali dengan membaca basmallah pastinya aktivitas yang baik-baik kita kerjakan tidak mungkin andaikata ada maling hendak mencuri tetapi diawali dengan membaca basmallah, tentu si maling sudah tidak ingat akan Allah karena dibutakan hawa nafsu.


Baik sekian yang dapat saya sampaikan untuk laporan baca minggu pertama ini, mohon maaf apabila masih kaku dan salah dalam penyampaian, karena saya masih amatir.


Untuk kritik dan sarannya silahkan di kolom komentar yaa sahabat, mohon menggunakan bahasa sopan ^_^


Sekian dari saya wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...


Sumber bacaan : https://www.rumahfiqih.com/y.php?id=289&tafsir-pendidikan-bismillah.htm

Minggu, 11 April 2021

Welcome to my Daisy 🌼

 


Secara umum, bunga daisy bermakna kemurnian, kepolosan, kesucian, kesederhanaan, kelembutan dan kesetiaan. Bunga daisy aneka warna.


Bunga yang satu ini diartikan sebagai lambang kemurnian dan kepolosan. Banyak orang yang mengaitkan bunga yang satu ini dengan pengungkapan perasaan karena tampilan bunganya yang seakan-akan menggambarkan sebuah ketulusan.

Bunga aster ini memiliki tampilan yang sederhana sehingga sering kaitkan dengan kesederhanaan. Selain itu, warna dari bunga daisy ini terlihat cukup cerah namun tidak terlalu mencolok sehingga sering disamakan dengan kemurnian dan kehangatan.

Meski memiliki penampilan yang sangat sederhana, namun bunga ini memiliki ciri khas yaitu bunga ini selalu mekar saat matahari terbit dan kuncup kembali saat matahari terbenam. Tampilan warnanya yang mudah dipadukan dengan warna dari bunga lainnya membuat bunga ini juga sering dibuat sebagai sebuah rangkaian bunga.


Pembentukan Akhlak

 Bismillahirrahmanirrahim... Tulisan saya kali membahas mengenai Pembentukan Akhlak, berkenaan dengan laporan observasi saya yang banyak mem...